Daftar Pemenang The International Dota 2 (TI1 – TI8)

Daftar Pemenang The International Dota 2 (TI1 – TI8)

Buat kamu yang masih belum tahu, The International Dota 2 merupakan kompetisi tahunan esport yang diselenggarakan oleh Valve. Tiap tahunnya para penggemar Dota 2 di seluruh dunia menantikan perhelatan akbar ini. Ajang The International Dota 2 terakhir kali diselenggarakan pada Agustus 2018, di Rogers Arena, Vancouver Canada. Momen Grand Final di The International 2018 tersebut mempertemukan tim OG berhadapan dengan PSG.LGD. OG meraih juara dengan poin 3-2, sebuah kemenangan mutlak yang tidak disangka dan dianggap sebagai kisah sukses tim Underdog.

Bila ditotal secara keseluruhan, TI Dota 2 sudah berlangsung selama 8 kali dalam kurun waktu 8 tahun. Dimulai pada tahun 2011, di mana pada saat itu Valve mengundang 16 tim untuk saling berkompetisi memperebutkan Grand Prize sebesar 1 juta USD atau sekitar 14,3 miliar Rupiah. Hadiah yang sangat fantastis untuk sebuah ajang turnamen gaming. Kini turnamen kelas dunia ini telah mencatatkan 8 tim pro gamer, yang saat ini menjadi inspirasi bagi tim-tim baru untuk menorehkan prestasi emas di ajang esports. Kabar Games sudah merangkum untuk kamu kiprah kedelapan skuad tersebut, di bawah ini.

Baca Juga :

Natus Vincere (The International 2011)

Seperti namanya Natus Vincere (latin), yang berarti “Terlahir untuk Menaklukkan”, skuad ini berhasil menjadi tim esport paling sukses pada masanya. Popularitas tersebut bukan tanpa alasan, selain skuad ini terlahir dari organisasi esport profesional di Ukraina, Natus Vincere juga berhasil menyabet gelar juara The International 2011 Dota 2 (TI1), yang pada saat kemunculannya telah menjadi ajang prestisius gaming kelas dunia.

Natus Vincere atau yang lebih dikenal dengan Na’Vi mengukuhkan statusnya di ajang esport TI1 Dota 2 setelah mengalahkan skuad asal negeri tirai bambu EHOME, dengan poin 3-1, untuk Natus Vincere. Selain bertanding di ajang TI1 Dota 2, skuad Na’Vi juga sudah terkenal di berbagai turnamen esport lainnya seperti CS: Go, Fifa, Paladins, World of Tanks, League of Legends, PUBG, serta terakhir Rainbow Six Siege.

Loading…

Invictus Gaming (The International 2012)

Invictus Gaming (The International 2012)

Negara China terkenal dengan budaya esport-nya yang cukup kental. Banyak tim-tim gamer profesional lahir dari negara tersebut. Bahkan Tencent yang dikenal sebagai developer games online terbesar di China, akan mewujudkan kota khusus esport di daerah Wuhu, wilayah Timur China. Berangkat dari berkembang pesatnya budaya esport tersebut, lahirlah skuad kebanggan China yaitu Invictus Gaming.

Baca Juga :

Berdiri pada tahun 2011, club esport satu ini menyematkan namanya di kancah turnamen esport dunia, salah satunya melalui kemenangan di The International Dota 2 Championship pada tahun 2012 (TI2). Event yang diselenggarakan di Seattle, Washington DC pada Mei 2012 tersebut, mendapat animo yang cukup besar dari fans gaming dunia. Dalam ajang tersebut Invictus Gaming berhasil mengalahkan juara sebelumnya yaitu skuad Natus Vincere (Na’Vi) dengan perolehan skor 3-1 untuk Invictus Gaming.

Kemenangan tersebut semakin mengukuhkan nama Invictus Gaming yang juga dikenal dengan  iG/IG esport Club, di kancah esport. Selain prestasinya di Dota 2, IG juga pernah menjuarai turnamen dunia game League of Legends pada tahun 2018. Hingga sekarang, tim ini memiliki beberapa skuad di dalam organisasinya, diantaranya adalah tim Dota 2, League of Legends, Crossfire, serta Starcraft II.

Alliance (The International 2013)

Tahun 2013 menjadi tahun yang paling berkesan bagi skuad Alliance. Selain di tahun tersebut mereka terbentuk, pada tahun yang sama pula mereka sukses memenangkan kejuaraan The International 2013 Dota 2 (TI3). Organisasi esport yang berbasis di Swedia ini  berhasil menyabet gelar juara setelah mengalahkan skuad mantan juara TI Dota 2 2011, Natus Vincere, dengan skor 3-2 untuk kemenangan Alliance.

Pada saat penayangan, ajang The International 2013 Dota 2, berhasil ditonton oleh 1 juta pasang mata. Layanan live streaming Twitch.Tv menjadi salah satu medium yang paling banyak digunakan oleh gamer penikmat Dota 2 untuk menyaksikan battle akbar tersebut. Pada tahun tersebut The International menorehkan rekor sebagai turnamen dengan hadiah terbesar sepanjang sejarah esport. Dengan total hadiah sebesar 2,8 juta USD atau berkisar 39 miliar Rupiah!

Selain Dota 2, skuad yang sekarang beranggotakan 5 orang pemain ini ini juga pernah berkiprah di ajang turnamen gaming lainnya. Diantaranya adalah League of Legends, Super Smash Bros, serta Fortnite. Meskipun membawa nama negara Swedia, namun anggota skuad Alliance tidak semuanya berdarah Swedia. Player dengan alias qojqva (Maximilan Brocker) serta Taiga (Tommy Le), keduanya masing-masing berasal dari Jerman dan Norwegia. Selain ingin menjuarai berbagai ajang ternama, misi mereka di dunia gaming adalah mempromosikan budaya esport Nordic pada dunia.

Newbee (The International 2014)

Newbee (The International 2014)

Tanggal 31 Maret 2014 menjadi saksi bersejarah bagi skuad esport (selain IG) kebanggaan negara China. Ya, Newbee menjadi tim pemenang pertama The International Dota 2 (TI4) dari China setelah Invictus Gaming, dimana dua tahun sebelumnya pernah menduduki tahta yang sama.

Pada tahun tersebut Newbee berhasil memboyong piala kemenangan serta uang tunai sebesar 5 juta USD, atau berkisar 71,4 miliar Rupiah. Sungguh pencapaian yang luar biasa dalam dunia gaming pada masanya. Bahkan saat itu hadiah tersebut tercatat dalam Guinness World Records sebagai hadiah terbesar turnamen eSports.

Klub esport bentukan milyarder China Wang “Niuwa” Yue ini berhasil mengalahkan rival sekaligus saudara sebangsanya di Grand Final TI4, Vici Gaming asal Shanghai China, dengan skor 3-1 untuk kemenangan mutlak Newbee. Tim yang didirikan pada 21 September 2012 ini, memiliki divisi lain yang juga berkompetisi di turnamen gaming kelas dunia. Diantaranya divisi CS: Go, FIFA, Hearthstone: Heroes of Warcraft, serta League of Legends.

Evil Geniuses (The International 2015)

Setelah beberapa kali menjadi tuan rumah ajang The International Dota 2, pada tahun 2015 kota Seattle Amerika Serikat akhirnya mendapatkan kehormatan paripurna dalam dunia esport. Pasalnya perwakilan mereka yaitu skuad Evil Geniuses yang berbasis di kota yang terletak di wilayah pantai barat Amerika tersebut, memenangkan juara pertama di turnamen dunia The International 2015 Dota 2 (TI5). Evil Geniuses disebut juga EG menjadi tim asal Amerika pertama yang memenangkan event dunia tersebut.

Key Arena (Seattle) menjadi saksi bisu kemenangan EG atas CDEC Gaming asal China. Dalam ajang ini Evil Geniuses berhak atas uang tunai sebesar 6,6 juta USD atau sekitar 94,2 miliar Rupiah. Total hadiah pada TI5 mencapai 18 juta USD. Sekali lagi mengukuhkan turnamen esport TI5 Dota 2 tersebut menjadi ajang gaming dengan hadiah terbesar dalam sejarah esport pada masanya. Evil Geniuses merupakan organisasi esport veteran yang sudah malang melintang di berbagai kompetisi video games dunia. Didirikan pada tahun 1999, club esport ini pernah menjajal kompetisi seperti turnamen Call of Duty, Halo, Rocket League, World of Warcraft, dan masih banyak lagi.

Wings Gaming (The International 2016)

Wings Gaming (The International 2016)

Satu lagi tim dari negara asal The Great Wall, mengepakkan sayapnya di kancah esport dunia. Wings Gaming yang berbasis di wilayah Chongqing China, berhasil memperpanjang deretan pemenang turnamen The International Dota 2, asal negeri Tiongkok tersebut. Wings dibentuk pada tahun 2014 dengan total anggota saat ini berjumlah 6 orang. Pada tahun 2015, Wings hanya mengikuti satu turnamen gaming. Namun di tahun berikutnya lompatan portfolio turnamennya melonjak signifikan, dengan total ajang yang diikuti sebanyak sembilan turnamen. Lima diantaranya membuahkan gelar juara pertama, dan membuat popularitas Wings semakin mengangkasa di ajang esport dunia.

Dalam ajang The International 2016 Dota 2 (TI6) sendiri Wings pulang membawa hadiah sebesar 9 juta USD. Kemenangan tersebut berhasil mereka raih dari rival berat asal Amerika yaitu skuad Digital Chaos. TI6 digadang-gadang sebagai salah satu ajang esport terbaik sepanjang masa. Pasalnya banyak cerita dramatis terjadi di sekitar turnamen. Salah satunya melibatkan beberapa tim Underdog yang tidak dijagokan, tiba-tiba melejit sukses melebihi ekspetasi banyak orang.

Dalam dunia olahraga istilah tersebut dikenal dengan sebutan Cinderella Stories. Terkait itu, Wings menjadi salah satu tim yang menjadi buah perbincangan di sepanjang turnamen, hingga akhirnya secara nyata meraih sukses gemilang di kompetisi fans Dota 2 sedunia.

Team Liquid (The International 2017)

Iterasi ke-7 kompetisi akbar The International 2017 Dota 2 menjadi pembuktian kesuksesan bagi Team Liquid, atau yang dikenal juga dengan sebutan Liquid atau TL. Skuad yang berpusat di negara Eropa, lebih tepatnya Utrecht Belanda ini, berhasil menduduki podium juara utama di kompetisi garapan Valve tersebut. Skuad veteran yang didirikan pada tahun 2000 ini berhasil memenangkan uang sebesar 11 juta USD atau berkisar 157 miliar Rupiah. Sungguh nominal yang luar biasa!

Kemenangan besar tersebut berhasil Liquid raih, setelah bertarung sengit di TI7 dengan mantan juara TI4, Newbee. Liquid berhasil meraih skor mutlak 3-0 dari rivalnya tersebut. Dibandingkan dengan club Champion lain yang sudah Kabar Games ceritakan di atas, Liquid menjadi esport club yang memiliki divisi dengan jumlah terbanyak. Ada total 15 divisi di dalamnya, termasuk 2 divisi (LOL Team dan CS: Go Team) yang berbasis di Amerika Serikat.

Team OG (The International 2018)

Seperti pernah diberitakan Kabar Games pada artikel sebelumnya. Team OG berhasil menjadi jawara ajang The International Dota 2 pada 2018 lalu. TI8 diadakan di Rogers Arena, Vancouver Canada. Kali ini Grand Final mempertemukan OG dengan skuad PSG.LGD (Paris Saint Germant. LGD Gaming). OG memenangkan permainan dengan skor 3-2. Banyak yang berpendapat kemenangan OG sebagai”underdog success story” karena mereka bermula di open qualifier, serta tidak dijagokan sepanjang berlangsungnya kompetisi.

OG yang berbasis di Eropa ini dibentuk pada tahun 2015 dan saat ini menjadi partner resmi minuman Red Bull. Selain Dota 2, mereka juga pernah berkompetisi di turnamen gaming lain, salah satunya adalah Super Smash Bros. Anggota inti skuad OG saat ini diisi oleh player dengan background kewarganegaraan yang beragam. Anathan Pham (ana) Australia, Topias Taavitsainen (Topson) Finlandia, Sebastien Debs (Ceb) Prancis, Jesse Vainikka (JerAx) Finlandia, dan terakhir sang leader Johan “N0tail” Sundstein dari Denmark.

Itu dia jajaran komplit pemenang The International 2011 – 2018 Dota 2 dalam kurun waktu (hampir) satu dekade terakhir. Oh ya, untuk The International 2019 rencananya akan diselenggarakan pada 20-25 Agustus mendatang dan berlokasi di Shanghai China, tepatnya di Mercedes Benz Arena. So, jika kamu yang termasuk menantikan event akbar tersebut, maka jangan sampai ketinggalan berita menarik seputar The International 2019, hanya di Kabar Games!

Bagikan untuk teman:
Loading...