Dua Orang Meninggal Akibat Game Pada Desember 2017

Dua Orang Meninggal Akibat Game Pada Desember 2017

Desember 2017 ini, berita duka menghampiri dunia games. Terdapat 2 Peristiwa meninggal akibat game. Peristiwa pertama terjadi kepada pemain yang bermain pada platform games Virtual Reality. Peristiwa kedua terjadi kepada pemain yang bermain games Call of Duty.

Dua Orang Meninggal Akibat Game Pada Desember 2017

Kematian Akibat Games Virtual Reality

Ilustrasi Game VR

Headset virtual reality dibuat untuk menampilkan dunia maya seperti realitas. Konten di dalamnya banyak yang menyuguhkan pancingan terhadap emosi pengguna. Perangkat canggih ini dibuat sedemikian rupa agar user friendly dan tidak membahayakan manusia.

Akan tetapi, memang nasib malang tidak mungkin lepas jika sudah menempel. Dilansir dari Ubergizmo, pengguna perangkat VR asal Rusia diberitakan meninggal akibat game. Korban yang meninggal merupakan seorang pria berusia 44 tahun.

Ia meninggal setelah secara tidak sengaja tersandung dan setelahnya terjatuh. Pria ini meninggal karena terlampau banyak kehilangan darah. Pasalnya, ia jatuh di meja kaca dan tertusuk kaca yang pecah. Yulia Ivanova selaku Asisten Senior dari Kepala Komite Investigasi Rusia mengatakan bahwa korban meninggal di tempat kejadian perkara.

Berdasarkan pemberitaan media lokal setempat, pria tersebut seharusnya tidak meninggal. Ia meninggal karena masih terus bermain game meskipun mengalami pendarahan setelah menderita luka akibat jatuh di meja kaca. Pria tersebut sama sekali tidak mendapatkan perawatan medis.

Kematian Akibat Games Call of Duty

Ilustrasi COD

Game online bisa menjadi sarana untuk mendapatkan teman baru dan atau musuh baru. Bila satu visi, satu passion, enak diajak bermain, maka seseorang bisa menjadi teman bagi seseorang yang sebelumnya asing. Bila tidak enak diajak bermain, dan juga tidak satu visi dan passion, maka seseorang bisa menjadi  musuh bagi seseorang yang sebelumnya asing.

Berkaitan dengan musuh dalam games, banyak orang yang tidak bisa menyelesaikannya di dalam games. Jadi mereka akan melampiaskannya di dunia nyata, seperti kasus yang terjadi di Wichita di mana seorang pemuda yang bukan seorang gamers meninggal akibat prank gamers Call of Duty.

Pada tanggal 28 Desember, Departemen Kepolisian Wichita telah mengkonfirmasi bahwa sebuah prank telah mengakibatkan kematian seorang pemuda. Wakil kepala polisi Troy Livingston berbicara dalam sebuah konferensi pers, yang disiarkan melalui Facebook. Isinya menyatakan bahwa prank yang berupa laporan palsu telah mengakibatkan kematian Andrew Finch yang berusia 28 tahun.

Sebuah laporan dari The Wichita Eagle menyatakan bahwa dua gamer  dengan akun bernama “Miruhcle” dan “Baperizer diduga berdebat mengenai taruhan pada games FPS Call of Duty. Argumen itu kemudian meningkat, dengan Baperizer mengancam untuk memukul Miruhcle. Kemudian, Miruhcle memberi alamat Finch daripada miliknya sendiri saat lawannya mengancam untuk memukulnya.

Baperizer kemudian melakukan telepon palsu kepada polisi yang mengakibatkan polisi datang ke rumah Finch. Baperizer (seolah Finch) menyatakan bahwa dirinya telah menembak ayahnya, dan sedang menyandera ibu dan saudara laki-lakinya. Ia mengancam akan membakar rumah beserta mereka.

Polisi ke rumah Finch di Wichita, untuk kemudian menembaknya yang mengakibatkan ia terbunuh pada pukul 06.43 siang CT. Finch dinyatakan meninggal di rumah sakit. Ibu Finch, Lisa Finch, menyalahkan polisi dan penelepon palsu atas penembakan tersebut.

Berdasarkan KWCH Eyewitness New,  pada Sabtu pagi tanggal 30 Desember 2017, Departemen Kepolisian Los Angeles telah menangkap seorang pria yang berasosiasi dengan insiden kematian yang terjadi baru-baru ini di Wichita, Kansas. Pemuda yang ditangkap berusia 25 tahun dan bernama Tyler Barriss. Sebelumnya, Barriss sendiri pernah ditangkap pada bulan Oktober 2015, karena membuat dua ancaman bom ke sebuah studio televisi lokal, berdasarkan pemberitaan Los Angeles Daily News.

Komentar Gamers!

Jumlah Komentar!